
Segalanya seakan luruh tak berarti
Asa yang kutanam layu tak bernyali
Hingga seakan semua menjadi gersang
Serba kering nan seoalah tak hidup ..
Pembicaraan kala sore itu kembali diperbincangkan antara aku dan sosok wanita setengah baya yang usianya sudah hampir 50 tahun. Sesaat wajah yang memang sudah mulai tua itu menunjukkan rasa sedihnya. Memang, selama ini aku hanya melihat wajah itu jarang sekali menampakkan raut kebahagiaan. Sudah 22 tahun ini semenjak ia melahirkanku, aku hanya selalu melihat wajah sedihnya itu.
Meski begitu, ia tak pernah mengeluh dengan keadaan apapun yang terjadi dikeluarga. Bahkan sepahit apapun perjalanan hidup yang dilaluinya, tak pernah ia sekalipun mengeluarkan air mata. Sungguh tidak pernah sekalipun juga kudengar keluhannya tentang masalah apapun. Meski sebenarnya, aku tahu bahwa jauh di dalam hatinya, ia sangat ingin menangis.
Namun ..sore itu, aku benar- benar dibuatnya menjadi anak yang seolah tak berarti untuknya. Ketika dari lisannya terucap satu kalimat yang membuatku sangat ingin berontak.
“Dikiro aku po yo seneng karo rencana kakangmu kae, atiku sakjane sedih Nok ..” ucapnya pelan sambil sibuk memasak di depan tungku. Crass ..hatiku yang memang pada dasarnya lemah nan sensitive, kembali teringatkan akan kebencianku pada kelakuan kedua kakakku itu.
Hatiku yang mulanya ingin ikhlas dengan keadaan yang menghimpit, kembali tergores dengan pedih yang mendalam. Keluarga ini ..yang aku tahu, dulu sangatlah harmonis ..bahkan orang lain bisa iri jika melihat keakraban itu, kedekatan itu, wah .. indahnya waktu itu .. Kini, aku hanya selalu melihat bahwa masalah mesti datang silih berganti. Dan seiring waktu berlalu, canda tawa pun lenyap, pupus dengan kesibukan masing- masing.
Tatapanku nanar seketika, memandang penggorengan di depanku dengan sesak di dada. Bisakah untuk ikhlas .. dan bisakah kembali pada sosok ibuku yang dulu? Sosok wanita yang tegar dan tidak pernah mengeluh. Aku mengerti, harapan orang tua adalah ingin melihat anak- anaknya bisa berhasil dalam segala hal. Yahh ..tapi ketika kenyataan berbeda dari harapan, mau bagaimana lagi?
Janganlah pernah merasa terlalu terhimpit, terkekang karena di dunia ini segala sesuatu pasti berubah, saat hati tidak bisa ikhlas, coba lah berdoa untuk bisa ikhlas atas ketidak ikhlasan kita. tataplah masa depan, jalani dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, karena pasti dibalik sebuah permasalahan pasti akan muncul kemudahan.
Hanya kala pikiranku ruwet, dengan kata- kata ini aku bisa bernafas lega. Mungkin, sudah sepantasnya aku yang jadi seseorang yang berarti untuk seorang ibu. Sudah saatnya aku yang menjaga ibu dan adikku satu- satunya, ketika kelak kakakku sudah ada dikeluarga lainnya. Hmm ..haruse bahagia, tapi ini kedua kali ibuku harus terpukul dengan kelakuan anak- anaknya. Aku yang anak ketiga, pastinya akan berusaha untuk tidak mengecewakan mereka bukan? Yahh ..semoga aku bisa ..bahagiakan dia ..