Senyumku mengembang melihat sahabatku menyambut kedatanganku. Tepat di depan gedung asramanya –Yayasan Tuna Netra -
Sesaat kami bersalaman dan cipika-cipiki, lalu aku pun dipersilakannya masuk.
Deg..jantungku berdetak cepat seketika, sosok laki-laki muncul di antara kami berdua. Secara fisik, dia lumayan tampan, lebih muda dan tampan dari suamiku tentunya (hehe ..), dan penglihatannya sama dengan sahabatku itu.
“Kenalan dulu Vit ..dia temenku” ucap F padaku.
“Ryan ..” laki-laki itu mengulurkan tangannya.
Inikah sosok laki-laki yang pernah F ceritakan padaku dulu. Ryan, seseorang yang sudah berhasil meluluhkan hatinya selama di asrama ini. Dan mereka pun mengikat hati mereka dengan sebutan berteman.
“Vit??” lamunanku buyar ketika F memanggilku.
“Kok malah bengong je Vit?” tanyanya.
Ups, mungkin jelas terlihat di wajahku bahwa aku tidak begitu suka dengan suasana seperti ini.
“Emm ..jadi ini ya temenmu yang sering kau ceritakan itu?”
F mengangguk. Aku tambah kaget lagi keduanya itu akrab banget, dekat banget yang kulihat.
“Kenapa Vit? Gak suka ya?”
Aku menggeleng pelan. Dan dalam hatiku berkecamuk beraneka rasa. Aku miris melihat kenyataan ini, sahabatku yang selama ini aku banggakan, karena kecerdasannya ..karena ketangguhannya dalam menghadapi hidup yang kehilangan sebagian penglihatannya, karena kedewasaannya, dan karena kepandaiannya. Dan kini di depanku …yang ada sosok F yang asing bagiku.
“Vitri, jangan berfikir yang macam-macam ya sama aku, aku nggak seperti yang lain kok, aku masih seperti yang dulu ..” lanjut F.
Rasanya aku ingin lari dari tempat ini, dan menemui suamiku ..lalu akan ku teriakkan .. “Mas Han …sahabatku sudah berbeda sekarang …aku sedihhhhh kenapa bisa seperti ini”
Laki-laki itu duduk di dekat F, aku yang sudah menikah sangat bisa merasakan bahwa mereka sudah sangat dekat hubungannya, lebih dari sekedar teman.
Tak banyak yang ku katakan, baru setelah laki-laki itu beranjak pergi aku bisa leluasa tanya pada F.
“Kalian dekat banget ya F?”
“Ya biasa Vit, kami hanya berteman kok, aku tahu batas-batasnya Vit, jadi kamu tenang aja ..”
Tenang? Seberapa aku bisa tenang, di sini F hanya sendiri ..jauh dari keluarga, dan aku yakin walau ini asrama tapi mereka pasti sering bersama.
“Aku ngerti kok F, hanya saja aku merasa sedikit kaget ..heehehe ..” tawa itu hambar.
“Bagaimana menurutmu Vit, apakah dia cocok untukku? Dia baik nggak menurutmu?”
“Emm, aku belum bisa menilai F…”
“Bukan seleraku sih Vit sebenarnya, kamu tahu juga kan dulu aku pengen seseorang yang seperti apa. Tapi ..untuk kali ini aku sadar keadaanku saat ini, mungkin ia yang nantinya bisa jadi jodohku.” Nadanya terdengar pasrah oleh kondisi yang memaksanya untuk menerima keadaannya yang saat ini.
“Aku tak punya hak F untuk melarangmu atau mencegahmu, yang pasti jaga hati dan dirimu ya F ..” ucapku kemudian.
“Pasti Vit, aku bisa jaga diri kok, jangan cemaskan aku ..oke?”
Aku tersenyum simpul.
F, dari dulu kita memang berbeda ..beda pendapat, beda pemikiran itu hal yang wajar. Tapi satu yang harus kau tahu, dalam Islam itu tidak ada perbedaan. Agama kita sama, tapi kenapa kita berbeda? Walau begitu, aku berharap satu hari nanti kau bisa memahami apa yang aku maksud.