Feed on
Posts
Comments

kebahagiaan itu …

Hanya dalam anganku andai bisa hamil …aku akan sangat bersyukur dan pastinya sangat bahagia.
Itu harapan terbesarku ketika aku sudah menjadi nyonya Handono. Hmm ..satu tahun tiga bulan aku menanti detik-detik kebahagiaan itu.

Dan tepat tanggal 30 September, aku terlambat datang bulan. Dalam hati …hanya merasa ah mungkin ini bukan berarti hamil, kata suamiku pun jangan terlalu banyak berharap nanti “ndakne” kecewa.

Akhirnya …perasaan penasaranku pun harus ku cari sendiri, aku cek sendiri dengan tes kehamilan, dan …ya Alloh inikah kuasa MU yang Engkau tunjukkan padaku …?
Air mataku tak terasa menetes, 15 bulan aku menunggu dua garis merah itu muncul, dan kini tepat di depan mataku …aku telah menjawab pertanyaanku dan pertanyaan banyak orang selama ini.

Aku temui suamiku ..dan dia memelukku pelan …
“Alhamdulillah Dik …”

Senyumku mengembang, dan dalam hatiku berkata “mas Han ..sebentar lagi kau akan jadi ayah ..”

Alhamdulillah …

-F-

Senyumku mengembang melihat sahabatku menyambut kedatanganku. Tepat di depan gedung asramanya –Yayasan Tuna Netra -

Sesaat kami bersalaman dan cipika-cipiki, lalu aku pun dipersilakannya masuk.

Deg..jantungku berdetak cepat seketika, sosok laki-laki muncul di antara kami berdua. Secara fisik, dia lumayan tampan, lebih muda dan tampan dari suamiku tentunya (hehe ..), dan penglihatannya sama dengan sahabatku itu.

“Kenalan dulu Vit ..dia temenku” ucap F padaku.

“Ryan ..” laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Inikah sosok laki-laki yang pernah F ceritakan padaku dulu. Ryan, seseorang yang sudah berhasil meluluhkan hatinya selama di asrama ini. Dan mereka pun mengikat hati mereka dengan sebutan berteman.

“Vit??” lamunanku buyar ketika F memanggilku.

“Kok malah bengong je Vit?” tanyanya.

Ups, mungkin jelas terlihat di wajahku bahwa aku tidak begitu suka dengan suasana seperti ini.

“Emm ..jadi ini ya temenmu yang sering kau ceritakan itu?”

F mengangguk. Aku tambah kaget lagi keduanya itu akrab banget, dekat banget yang kulihat.

“Kenapa Vit? Gak suka ya?”

Aku menggeleng pelan. Dan dalam hatiku berkecamuk beraneka rasa. Aku miris melihat kenyataan ini, sahabatku yang selama ini aku banggakan, karena kecerdasannya ..karena ketangguhannya dalam menghadapi hidup yang kehilangan sebagian penglihatannya, karena kedewasaannya, dan karena kepandaiannya. Dan kini di depanku …yang ada sosok F yang asing bagiku.

“Vitri, jangan berfikir yang macam-macam ya sama aku, aku nggak seperti yang lain kok, aku masih seperti yang dulu ..” lanjut F.

Rasanya aku ingin lari dari tempat ini, dan menemui suamiku ..lalu akan ku teriakkan .. “Mas Han …sahabatku sudah berbeda sekarang …aku sedihhhhh kenapa bisa seperti ini

Laki-laki itu duduk di dekat F, aku yang sudah menikah sangat bisa merasakan bahwa mereka sudah sangat dekat hubungannya, lebih dari sekedar teman.

Tak banyak yang ku katakan, baru setelah laki-laki itu beranjak pergi aku bisa leluasa tanya pada F.

“Kalian dekat banget ya F?”

“Ya biasa Vit, kami hanya berteman kok, aku tahu batas-batasnya Vit, jadi kamu tenang aja ..”

Tenang? Seberapa aku bisa tenang, di sini F hanya sendiri ..jauh dari keluarga, dan aku yakin walau ini asrama tapi mereka pasti sering bersama.

“Aku ngerti kok F, hanya saja aku merasa sedikit kaget ..heehehe ..” tawa itu hambar.

“Bagaimana menurutmu Vit, apakah dia cocok untukku? Dia baik nggak menurutmu?”

“Emm, aku belum bisa menilai F…”

“Bukan seleraku sih Vit sebenarnya, kamu tahu juga kan dulu aku pengen seseorang yang seperti apa. Tapi ..untuk kali ini aku sadar keadaanku saat ini, mungkin ia yang nantinya bisa jadi jodohku.” Nadanya terdengar pasrah oleh kondisi yang memaksanya untuk menerima keadaannya yang saat ini.

“Aku tak punya hak F untuk melarangmu atau mencegahmu, yang pasti jaga hati dan dirimu ya F ..” ucapku kemudian.

“Pasti Vit, aku bisa jaga diri kok, jangan cemaskan aku ..oke?”

Aku tersenyum simpul.

F, dari dulu kita memang berbeda ..beda pendapat, beda pemikiran itu hal yang wajar. Tapi satu yang harus kau tahu, dalam Islam itu tidak ada perbedaan. Agama kita sama, tapi kenapa kita berbeda? Walau begitu, aku berharap satu hari nanti kau bisa memahami apa yang aku maksud.

Hmm ..


Hmm ..perasaan tak nyaman tiba-tiba menyergap hatiku. Ada satu rasa yang itu membuatku terus berfikir.
Kata pak Ustadz, kita sebagai manusia harus beramar ma’ruf nahi munkar, yupz ..kalimat itulah yang membawaku pada satu perasaan yang tidak nyaman sekali saat ini.

-kowe ki rasah ngelek-elek mbakyuku, emange wong wedok mung mbakyuku tok sik dosa??-

Sebaris kalimat sms itulah yang sedang aku pikirkan.
Inikah gadis kecil yang dulu pernah aku bawa kemana-mana, dan kini setelah menginjak SMP akhirnya menjadi seseorang yang sama pada umumnya para ABG. Remaja yang saat ini hampir sebagian besar sudah rusak pola pikir dan pola sikapnya. Mereka sudah tak lagi berfikir apakah yang mereka lakukan dosa ataukah tidak, yang terpenting bagi mereka adalah bisa menikmati masa mudanya yang seperti kebanyakan remaja yang lainnya.

Satu tahun ..membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap anak itu. Bahkan nasihatku pun ia tolak dengan sms seperti itu. Aku hanya menghela nafas pelan, hhhhh …kemudian ku lafadzkan ..Astaghfirullah ..

-puisi dari suamiku ..-

Tanggal 13 Juni 2011, genap setahun usia pernikahanku dengan mas Han …
Hmm …aku hanya minta puisi darinya saja, karena selama ini dia memang sangat kesulitan jika ku suruh untuk bisa romantis denganku, hihii ..
Akhirnya …sepulang dari kerja …ia memberikanku selembar kertas …
Perlahan ku buka …ku baca kata per kata …

Buat Istri Tercinta

Senyummu adalah bahagiaku,
Ceriamu adalah dambaku,
Gelisahmu adalah kebimbanganku,
Air matamu adalah kesediahanku, ..

Kau pelipur lara dukaku,
Kau pengiring suka citaku,
Bersama kita dalam hari-hari keberkahan …

Ikatan ini berawal dari hati atas nama cinta kepada MU
Pertautan ini berasal dari angan atas nama rindu kepada MU
Sungguh ini adalah cinta, dan rindu ..kepada MU
Cinnta dan rindu atas nama pengabdian kepada Rabbul Izzati ..

“Sungguh aku sangat mencintaimu karena Alloh ….”

Seketika aku meneteskan airmataku …untuk pertama kalinya ini aku begitu terharu …
Aku menghambur ke suamiku, aku memeluknya erat ..dan ku bisikkan padanya “makasih suamiku ….love u …”

kenapa??

surut langkahku …
memandang tak pasti arah ..
haruskah ku hentikan atau terus berjalan??

sayu mataku ..
tertimbun ribuan tetesan air mata ..
haruskah ku hentikan atau terus ku teteskan??

aku tersungkur ….terjatuh
terjatuh lagi …dan bisakah berdiri lagi ..??

rapuhku …lukaku …
masih begitu pekat dalam kalbuku
menjerit, merintih, meronta penuh tangis ..

ku angkat wajah pasi ..
ku tatapi langit mendung itu ..

kenapa????
tanya yang selalu sulit tuk ku jawab …

memo 31 Jan 2011

Sudah akhir January ..
menata kembali segala
angan yang terpecah ..

Mengangankan satu kisah ..
memory masih melekat dalam lubuk jiwa,
mengenang tiap peristiwa ..
indah terasa mengikat hati ..

Aku masih sendiri dalam kesendirianku ..
sunyi dan sepi ..
Tapi …hanya satu orang ..
yang bisa melegakan rasaku ..
Hanya satu ..

Suamiku ..

Namun masih ada satu yang kurang ..
aku ingin …ingin sekali …
ada pangeran kecil dalam hidupku ..

-sepucuk asaku ..-

Tak terasa sudah hampir 6 bulan usia pernikahanku ..
Hhhh …banyak hal yang aku rasakan dan aku alami selama enam bulan terakhir ini.
Terkadang bahkan tak jarang aku selalu menjadi pihak yang menyebalkan bagi suamiku (hihii …memang pada dasarnya akunya yang agak2 aneh ..)

Seiring berjalannya waktu …aku merasa masih ada yang kurang ..(inikah sifat manusia? yang selalu merasa kurang?). Dulu sebelum mendapatkan suami, aku senantiasa mohon pada NYA untuk memberiku seorang suami yang baik hati dan juga tidak sombong (hihiii ), yang pada akhirnya Alloh memang mengabulkan permohonanku …

Kini ..aku masih merasa ada yang kurang …aku mengidamkan ada sosok bayi mungil hadir dalam rumah kecilku. Ku sadar ini bukan tujuan utama dalam pernikahan …hanya saja ..aku merasa aku belum bisa menjadi istri yang membahagiakan suami dan keluarga besar suamiku. Padahal ku tahu, ibu bapak mertuaku sudah sangat ingin menimang cucunya …yahhh ..cucu dari anak lelaki satu-satunya.

Hmm …sampai pada puncaknya ..aku hanya bisa berkhusnudzon pada NYA …mungkin belum saatnya saja.
Tidak apa-apa, pasti satu saat aku bisa merasakan hamil dan merasakan indahnya melahirkan …(amiin ..).

171210

-puisi hanya untuk satu nama-


Di tengah kesulitan hidup ..
Di tengah kepahitan duka ..
Di tengah kerumitan masalah ..
Di tengah rapuhnya keluarga ..

Aku berharap ..
pernikahanku bukan sekedar pernikahan ..
Aku ingin membangun cita dan cinta di dalamnya ..
Aku ingin membina pondasi Islami di rangkanya ..
Aku ingin menjadikan surga di rumahnya ..

Sebentar lagi ..
Aku akan melangkah berdua bersamamu ..
Mengarungi samudra yang setiap saat bisa merobohkan bangunan kita ..
Dan .. aku akan menjadi surga di hatimu …
menjadi sandaran letih jiwamu ..

Puisi hanya untuk satu nama …”mas Han ”

-memori maret ‘10-

“maaf ..”

Hhh ..aku mendesah pelan, ku hempaskan tubuhku yang akhir- akhir ini nampak tak segemuk dulu, hmm ..kata orang sih begitu ..(gpp lah ..asal selalu sehat hati walau tak sesehat raga ..).

Ku tatapi langit- langit kamar, pikiranku masih terbayang pada pertengkaran kecilku dengan suami tercinta. Bukan pertengkaran sebenarnya, tapi hanya sedikit ngambek karena sesuatu yang tak mengenakkan hati saja.

Jujur ..ini bukan untuk pertama kalinya aku bersikap penuh ego dan emosi seperti itu, dan ini juga bukan untuk pertama kalinya juga suamiku menghadapiku dengan penuh kesabaran. Kalau bisa ..ingin aku meneteskan air mataku. Sebenarnya kenapa dan ada apa denganku? ..

Menjadi bagian keluarga suamiku ..menjadi ipar dari saudara- saudaranya .. menjadi menantu dari orangtuanya ..dan hidup di sekeliling mereka. Bukankah ini pilihanku? Namun kenapa seolah belum bisa aku ikhlas dalam menjalani dan menerima semuanya? Tak ada yang aku sesali, hanya saja ..aku belum bisa menyatukan hati mereka satu per satu. Ada saja yang membuatku tak nyaman ..bahkan terasa kaku untuk diungkapkan. Bukan salah siapa- siapa jika aku belum bisa menjadi seperti yang suamiku harapkan ..ini hanya masalah proses saja.

Yahh ..yang pasti semua hanya butuh yang namanya “komunikasi”

Lamunanku terbuyar sesaat setelah suamiku masuk dan merebahkan dirinya disampingku. Sepi, tanpa ada canda seperti yang biasa ku lakukan. Aku pun terdiam seribu bahasa, ku lirik sebentar ..wajahnya nampak letih ..terkadang ia terlihat sudah tua yaah setua usianya ..tapi anehnya kenapa aku bisa mencintainya yang terpaut 13 tahun denganku?

Aku tak mempedulikan perasaanku, ku raih tangannya dan ku cium sebentar ..sembari ku lirihkan satu kata …”maaf ..”

-sendiriku ..-

Memaksa hati demi satu tujuan ..
tak ada yang salah ..
ini hanyalah sebuah proses ..
menuju cita dan cinta yang pernah ku tulis dulu ..

Dan ..sendiriku buat jiwa menjadi hampa ..
bisakah ku temukan warna itu?
warna yang menjadikan segalanya menjadi indah ..

Namun ..tak bisa ku nafikan ..
beberapa menit lagi ..hati dan raga saatnya pulang kepada haknya ..
senyumku ..dalam hati ..dan ingin berucap ..
“ijinkan ..aku ikhlas dalam menjalani fitrohnya kehidupan ..”

Older Posts »